Turbo Turbo Turbo Dunia Remaja Terkini dan Gaul Turbo

Jumat, 13 Maret 2015

Ternyata, Nama Bisa Menentukan Kesuksesanmu Lho!



Ternyata, Nama Bisa Menentukan Kesuksesanmu Lho!

Kita memandang nama sebagai sebuah hal yang serius. Banyak orang tua, misalnya, telah mempersiapkan nama anak mereka jauh hari sebelum buah hati mereka lahir. Banyak juga orang yang mengganti nama mereka setelah dewasa demi hoki yang lebih baik.
Tapi apakah nama memang bisa berpengaruh buat masa depanmu? Menurut sejumlah penelitian

Cara 3 Orang Terkaya di Indonesia Mendapatkan Kekayaannya



Cara 3 Orang Terkaya di Indonesia Mendapatkan Kekayaannya

Perjuangan dan usaha keras pasti membuahkan hasil memuaskan. Kekayaan yang didapat oleh orang-orang sukses di Indonesia dan dunia merupakan hasil dari kerja keras mereka yang tidak sebentar. Pasang surut dalam usahanya sudah menjadi hal yang wajar terjadi dan keterpurukan itu justru bisa membawa mereka ke level yang lebih tinggi.
Begitu juga dengan kekayaan yang didapat oleh 10 pengusaha Indonesia ini. Tidak jarang merekamesti mengalami banyak kegagalan dan harus kembali memulai dari awal. Siapa saja 10 orang tersebut dan bagaimana kisahnya? Yuk, simak artikel ini.

1. R. Budi dan Michael Hartono – Djarum Group

Tahun 1963, pabrik rokok kretek Djarum yang dibangun oleh Oei Wie Gwon  habis terbakar dan perusahaan mengalami kerugian besar. Dalam keadaan yang tidak stabil ini, perusahaan Djarum diwariskan kepada dua anaknya, R. Budi dan Michael Hartono.
Di tangan Hartono bersaudara ini, Djarum tumbuh menjadi perusahaan besar di Indonesia dan mulai mengekspor rokok kreteknya ke luar negeri pada tahun 1972. Mereka juga tidak lupa berinovasi pada produknya dengan menghadirkan jenis rokok Djarum Filter dan Djarum Super. Keduanya pun laku keras di pasaran.
Kerajaan bisnis keluarga Hartono tidak hanya di bidang rokok saja. Di bawah Djarum Group, mereka melebarkan sayap ke bidang elektronik dengan memroduksi Polytron, membangun komplek bisnis di kawasan Hotel Indonesia, memiliki 51% saham Bank Central Asia (BCA), dan memiliki 65.000 hektar kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat. Total kekayaan yang dimiliki oleh Hartono bersaudara ini mencapai USD 15.000 M, setara dengan 165 triliun rupiah.

2. Eka Tjipta Widjaja – Sinar Mas Group

Hanya menjadi lulusan sekolah dasar (SD) tidak membuat Eka Tjipta Widjaja patah semangat untuk memiliki kehidupan yang layak. Selepas tamat SD, ia memulai bisnis kecil dengan berjualan biskuit dan kembang gula. Namun sayang, bisnis kecil ini harus terhenti karena saat itu Indonesia tengah dijajah oleh Jepang.
Era Orde Baru menjadi awal kesuksesan Eka Tjipta dan kerajaan bisnisnya, Sinar Mas Group. Perusahaan awal Sinar Mas Group adalah PT Tjiwi Kimia yang bergerak di bidang produksi kertas. Kemudian dilanjutkan dengan membeli 10.000 hektar kebun kelapa sawit dan Bank Internasional Indonesia (BII) pada tahun 1982.
Saat ini, usahanya telah berkembang pesat di berbagai bidang. Sinar Mas Group menaungi perusahaan Asuransi Sinar Mas, Sinar Mas Land, Sinar Mas Pulp dan Kertas, serta telekomunikasi Smartfren. Jaringan yang dimiliki juga telah meliputi beberapa kawasan di Asia Tenggara. Total kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Eka Tjipta Widjaja ini mencapai USD 7.000 M, setara dengan 77 triliun rupiah.

3. Susilo Wonowidjojo – PT Gudang Garam

PT Gudang Garam yang saat ini dipimpin oleh Susilo Wonowidjojo merupakan perusahaan yang didirikan oleh sang ayah, Surya Wonowidjojo tahun 1958. Kesuksesan perusahaan ini tidak bisa dilepaskan dari cara Surya Wonowidjojo memperkenalkan bisnis pada anak-anaknya. Sejak remaja, Susilo telah dilibatkan dalam usaha keluarga ini, sebagai persiapan jika nantinya ia mendapat posisi yang lebih tinggi. Dan cara ini pun sukses menghasilkan perusahaan yang terorganisir dan terstruktur dengan baik.
Susilo Wonowidjojo dikenal sebagai orang yang adil, ulet, dan pekerja keras.  Begitu adilnya hingga ia sangat selektif dalam memilih orang yang akan bekerja pada perusahaannya. Bahkan, anaknya sendiri pun jika tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, tidak akan diterima oleh perusahaannya.
Buah dari kerja keras memang tidak pernah sia-sia. Saat ini, Susilo Wonowidjojo didapuk sebagai orang terkaya keempat di Indonesia dengan kekayaan sebesar USD 5.300 M, setara dengan 58,3 triliun rupiah.

Game Karya Anak Bangsa yang Layak untuk Kamu Mainkan



Game Karya Anak Bangsa yang Layak untuk Kamu Mainkan

Di era teknologi digital seperti sekarang, industri game merupakan salah satu peluang yang sangat menjanjikan. Siapa yang gak kenal DotA di platform PC atau Candy Crush di platform Android dan iOS? Tapi ternyata, orang Indonesia nggak hanya berperan sebagai konsumer game, lho. Banyak dari kita juga sebagai pengembangnya.
Penasaran, ‘kan, game seperti apa yang dibuat oleh anak bangsa yang kreatif? Ini dia game karya anak bangsa yang layak buat kamu mainkan, baik di platform PC maupun Android dan iOS

1. Angkot The Game: Kudatang Lagi

 

Platform: PC
Pengen tahu suka duka jadi supir angkot? Mainkan aja game ini. Angkot The Game: Kudatang Lagi adalah sekuel dari game berjudul Angkot The Game yang populer di Facebook. Game ini dikembangkan oleh pengembang asal Bandung, Oray Studios, yang berkolaborasi dengan pengembang Inmotion Digital.
Game ini dimulai dengan ucapan start khas Bandung: “Tarik, Mang!” Untuk menyelesaikan misi dalam game ini, pemain harus menaikkan dan menurunkan penumpang. Oh iya, kamu juga bisa memilih jenis dan warna mobil lho! Untuk menjajal versi betanya, kamu bisa langsung unduh di sini.

2. Trigger Knight

 

Platform: Multiplatform
Trigger Knight adalah game bertema running yang dikembangkan oleh Mintsphere. Game ini simpel tapi gak membosankan dimainkan berulang kali karena fitur achievement dan tantangan yang diacak tiap harinya, di tambah dengan karakter yang imut dan musik yang keren. Meskipun sederhana, kamu tetap perlu menggunakan strategi untuk tetap selamat kalo mau sampai melawan naga.
Unduh game ini di Google Play, Apple App Store, dan Ovi Store. Kamu juga bisa mencoba memainkannya di browser kamu.

3. MbakTin Ekstrak Kulit Manggis

 

Platform: Android
Kabar gembira untuk kita semua, kulit manggis kini ada game-nya! Dengan judul yang merupakan plesetan dari merk ekstrak kulit manggis, game ini memang dimaksudkan sebagai parodi dari jingle iklan televisi yang fenomenal itu. MbakTin dikembangkan oleh 4 Game Studio dari Jogja: Amagine Interactive, Creacle Studio, Agate Jogja, dan Enthrean Studio. Keempatnya tergabung dalam Komunitas Gamelan.
Misi game ini adalah mengekstrak kulit manggis sebanyak-banyaknya sebelum waktu habis. Kamu tinggal mengetuk-etukkan jarimu sesuai angka yang tertera di layar.
Unduh game ini di Google Play.

4. Klompencapir

 

Platform: Android
Buat anak 90-an, istilah klompencapir pasti gak asing lagi di telinga kamu. Eh, tapi yang ini bukan akronim dari Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa yang ngetren di era Orba lho. Klompencapir yang ini adalah game tebak-tebakan besutan Slab Games, pengembang yang digawangi oleh Hermanto dan Bona Akbar dan berlokasi di Denpasar, Bali.
Kalo kamu pernah memainkan game Quiz Parampaa, kamu pasti familiar dengan game lucu yang satu ini. Hati-hati, jangan sampai termakan pertanyaan yang menjebak ya!
Unduh game ini di Google Play.

5. INheritage: Boundary of Existence

 

Platform: iOS
Kita patut bangga sama game yang satu ini. INheritage: Boundary of Existence adalah game 2D side-scrolling shoot ‘em-up bergaya futuristik yang kental dengan nuansa Indonesia. Game yang dikembangkan oleh Tinker Games yang berbasis di Bandung ini memiliki alur cerita yang menarik, latar yang familiar, serta musik yang khas Indonesia. Game ini bahkan sampai merambah ke Negeri Sakura dan dialihbahasakan ke bahasa Jepang.
Unduh game ini di Apple App Store.

Momen-Momen Krusial Dalam Sejarah Selfie



Momen-Momen Krusial Dalam Sejarah Selfie

Kita hidup di era selfie — foto diri sendiri yang diambil instan dengan ponsel pintar atau kamera dan dibagi-bagikan ke publik lewat berbagai jejaring sosial yang ada. Walaupun selfie baru meraih puncak kepopuleran selama dua tahun belakangan, perjalanan foto diri ini udah dimulai dari ratusan tahun yang lalu, lho. Nah, sementara para pakar fotografi masih berdebat apakah selfie bisa menjadi salah satu genre fotografi sendiri (setara dengan still life, travel atau macro photography), yuk kita simak dulu gimana self-photograph berevolusi menjadi selfie!

Tahun 1839: Foto Diri Pertama Dalam Sejarah

 

Tuh, gerakan memotret diri sendiri sebenarnya udah dimulai 175 tahun yang lalu. Robert Cornelius, seorang pionir teknologi fotografi di Amerika, menjepret dirinya sendiri menggunakan teknik daguerreotype. Potretnya tersebut kemudian dikenal sebagai potret diri pertama dalam sejarah. Karena proses daguerreotype butuh waktu yang lama buat menangkap gambar, Robert masih sempat mengeset kamera, membuka tutup lensa, lalu berlari ke depan kamera dan menahan pose. Setelah 1 menit (atau lebih) menahan posenya, dia kembali bergegas menutup lensa kamera. Haha, kalau buat selfie aja seribet ini, kamu bakal tetap mau selfie, nggak?

1900-an: Kamera Kodak Brownie Muncul

 

Di bulan Februari 1900, Eastman Kodak memperkenalkan seri pertama kamera kotak Brownie. Bentuknya sangat sederhana: sebuah kotak berbahan kertas dus dengan lensa meniskus dan rol film 117. Kamera ini bikin memotret jadi lebih mudah dan murah, karena bentuknya yang simpel dan harganya yang terjangkau. Popularitas Brownie menyebabkan tren orang mengambil gambar dirinya sendiri. Namun karena kamera ini masih terlalu berat untuk diangkat tinggi-tinggi, ‘selfie’ dengan kamera Brownie lebih sering dilakukan di depan cermin, menggunakan penyangga.

1960-an: Self-Photograph Makin Populer, Hingga Dilakukan di Luar Angkasa

 

Memasuki era 60-an, ukuran kamera semakin kecil dan harganya pun semakin terjangkau. Alhasil, kegiatan memotret diri jadi semakin populer.
Namun beda dengan selfie zaman sekarang, memotret diri pada tahun 60-an masih didasari oleh niat dokumentasi — menangkap momen penting tanpa ada tendensi buat pamer. Contoh ‘selfie’ yang terkenal dari dekade ini adalah yang dibuat oleh astronot Edwin “Buzz” Aldrin falam penjelajahan pesawat Apollo di luar angkasa. Ini sepenuhnya dilakukan untuk mengenang momen “lompatan besar bagi umat manusia” itu.

2002: Istilah ‘Selfie’ Digunakan Untuk Pertama Kali

 

Setidaknya, demikian klaim orang-orang Australia. Negeri Kangguru itu emang dikenal karena kebiasaan mereka menambahkan akhiran “-ie” atau “-y” di ujung sebuah kata benda: ‘Fire officer’ jadi ‘Firie’, ‘ear’ jadi ‘earie’, dan ‘self’ jadi ‘selfie’.
Tapi siapa sebenarnya yang mencetuskan istilah ini pertama kali? Pada 13 September 2002 dini hari, Nathan Hope (sebut saja Hopey, karena dia Aussie) mengeluhkan jahitan yang tersemat di bibirnya pada sebuah forum online. Dia bilang, jahitannya terasa “kering dan gak nyaman”. Ketika ditanya cerita di balik jahitan bibirnya
Lalu dia mem-posting foto bibirnya yang terjahit.
Perlahan namun pasti, kata ‘selfie’ mulai menjadi populer di negara sebelah selatan Indonesia ini.

2004-2009: #Selfie Mulai Diperkenalkan Flickr, Sementara Facebook Mengungguli MySpace

 

Kalau orang Australia mengklaim bahwa ‘selfie’ berasal dari forum on-line di negeri mereka, orang Amerika menggadang situs berbagi gambar Flickr sebagai yang pertama yang mempopulerkan istilah tersebut. Flickr menggunakan istilah ‘selfie’ untuk mendeskripsikan foto diri yang di-posting para remaja putri, yang jumlahnya memang banyak di situs terbut.
Secara umum, perkembangan selfie pada masa-masa ini gak bisa dilepaskan dari laju pertumbuhan pengguna jejaring sosial. Awalnya, pengguna internet harus puas dengan MySpace Pic yang hamya bisa menampilkan foto beresolusi rendah. Kebanyakan gambar di MySpace pun buram dan silau karena flash yang berlebihan. Kemudian, Facebook muncul dan menawarkan pengalaman tampilan foto yang lebih baik. Hadirnya Facebook, diiringi meningkatnya kualitas kamera poket secara umum, pada akhirnya mendorong lebih banyak orang untuk bereksperimen dengan selfie.

2010: Apple Merilis iPhone 4

 

Kualitas selfie semakin membaik di awal 2010-an, berkat manuver dari Apple. Bagaimana bisa iPhone 4 bisa mempengaruhi perkembangan selfie? Jadi, perusahaan inovasi Amerika ini mengadopsi teknologi kamera depan — yang udah duluan populer di ponsel buatan Jepang — dan menjadikan kamera ini sebagai alat bantu utama bagi penggunanya mengambil gambar selfie.
Pada bulan Oktober 2010, sebuah layanan berbagi foto secara instan diluncurkan. Situs ini nantinya akan menjadi sarang bagi foto selfie dari seluruh dunia.

2013: ‘Selfie’ Word Of The Year versi Oxford Dictionary

 

Walaupun istilah ini udah muncul lebih dari satu dekade yang lalu, baru ditahun 2012-2013 lah selfie mendapat perhatian secara global. Dalam satu tahun, penggunaan kata ‘selfie’ meningkat hingga 17.000%. Majalah TIME pun menyebut ‘selfie’ sebagai salah satu kata yang paling sering didengungkan tahun itu.
Berkat kecanggihan aplikasi ponsel pintar yang didukung kamera berkualitas, mengunggah selfie menjadi lebih mudah dan makin ‘enak dipandang mata’. Maka gak heran kalau Oxford Dictionary memasukkan selfie ke dalam kosakatanya, dan menyematkan predikat Word Of The Year kepada ‘Selfie’.

2014: Instagram Menjadi Rumahnya ‘Selfie’

 


Anak Muda Ini Bisa Sukses Sebelum Usia 21



Para Anak Muda Ini Bisa Sukses Sebelum Usia 21. Kamu Juga Bisa!

Mereka kaya, terkenal, dan terutama: muda. Sebagian besar dari mereka bahkan belum mencapai usia 21 tahun. Kebayang ‘kan, apa apa lagi yang bisa mereka lakukan di sisa umur mereka yang masih panjang?
Daftar di bawah ini akan menampilkan beberapa anak muda yang paling sukses di dunia teknologi informasi saat ini. Ada yang memimpin startup, sukses sebagai seleb YouTube, bahkan menjadi CEO.
Harapannya, kita bisa mengambil pelajaran dari kesuksesan mereka. Dan yang terpenting, kamu jadi terpacu untuk berbuat lebih banyak untuk kesuksesan dirimu sendiri!

1. Palmer Luckey, 21 Tahun

Palmer adalah pendiri Oculus VR, sebuah startup yang membuat perangkat realitas virtual seperti Oculus Rift. Perangkat yang dipasang di kepala ini memungkinkan para pemain game terpapar terhadap lingkungan virtual yang terasa “nyata”.
Walaupun tren ini belum mencapai puncaknya, Palmer tinggal menunggu waktu saja sebelum para pengembang membuat lebih banyak game virtual. Produk ini begitu menjanjikan sampai-sampai Mark Zuckerberg melalui Facebook-nya mengakusisi Oculus VR dengan harga USD 2 miliar, atau setara dengan Rp. 23 triliun.

2. Arya Bina, 19 Tahun

Remaja asal Amerika ini memulai perusahaan di bidang travel pada usia 16 tahun. Perusahaan itu berupa situs penyedia paket liburan murah dengan potongan diskon, Cheap Travel Hunter. Dalam tiga tahun website ini berkembang pesat dengan jumlah kunjungan sekitar 75,000 per bulan. Kini, Arya membawahi 20 orang karyawan. Lumayan, lah

3. Nick D’Aloisio, 18 Tahun

Nick adalah pengembang aplikasi pengumpul berita, Slummy, yang pada Maret 2013 dibeli Yahoo! dengan mahar USD 30 juta, atau setara dengan Rp. 358 miliar. Sebenarnya, pada dasarnya Yahoo! bukannya membeli Slummy, tapi membeli otak Nick. Buktinya? Di bulan Januari 2014, Yahoo! muncul dengan aplikasi News Digest yang dibangun berdasarkan kesuksesan Slummy. Prestasi yang lebih dari lumayan buat anak yang baru masuk kuliah.

4. Thomas Sohmers, 17 Tahun

Thomas memutuskan untuk putus sekolah sejak bangku SMA demi mendapat gemblengan Peter Thiel, salah satu pendiri PayPal, melalui program 20 Under 20 Thiel Fellowship. Namun pengorbanan Thomas nggak sia-sia. Saat ini dia sedang mempromosikan komputer ciptaannya di bawah bendera startup sendiri, REXcomputing. Komputer ciptaan Thomas memiliki fungsi yang sangat cepat, namun juga sangat hemat energi. Bayangkan komputer super yang dioperasikan dengan tenaga baterai smartphone!

5. Erik Finman, 15 Tahun

Erik merupakan pengusaha muda yang sudah mempelajari komputerisasi dan robotika sebelum menginjak usia 15 tahun. Pada suatu hari, nenek Erik memberikannya hadiah berupa uang sebesar USD 1,000. Alih-alih dipakainya buat beli konsol video game seperti teman sebayanya, Erik memutar kembali uang itu di Bitcoin dan memperoleh keuntungan USD 100,000.
Uang sebanyak itu tidak ditabungnya buat menebus biaya kuliah yang tinggi di Amerika. Lebih cerdik lagi, Erik memutarnya kembali sebagai modal untuk mendirikan Botangle, sebuah situs pendidikan yang menghubungkan para pelajar dengan pengajar. Erik pun sudah bikin deal dengan ayahnya: jika dia berhasil memperoleh 1 juta dolar sebelum berusia 18 tahun, maka dia nggak perlu menempuh bangku kuliah. Semoga sukses, Erik!